Menyusui mencegah Reumatik

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa wanita yang menyusui bayinya selama kurang lebih dua tahun akan cenderung terhindar dari resiko terserang rematik. Benarkah ?

Meskipun sebenarnya tidak mematikan, namun penyakit rematik dipandang sebagai jenis penyakit berbahaya yang harus dihindari. pasalnya penyakit yang satu ini mampu mematikan aktivitas hidup seseorang yang menderitanya. Karena bila seseorang menderita ini, maka hampir setiap aktivitas tubuhnya akan terhambat oleh adanya rasa sakit yang muncul. Terlebih lagi bila penyakit ini sampai menimbulkan cacat permanen pada kondisi yang sangat parah.

Dalam berbagai literatur penyakit rematik muncul pada sistem kekebalan tubuh, dengan alasan yang tidak jelas, secara salah menyerang persendian, sehingga menyebabkan radang, bengkak, dan nyeri. seiring waktu, maka dapat mengikis tulang dan memperlemah jaringan dalam persendian. keadaaan ini lebih sering terjadai pada wanita dibandingkan pria. penelitian sebelumnya mengatakan bahwa faktor hormonal tertentu mungkin terkait dengan meningkatnya resiko terhadap penyakit ini.

Karenanya kemudian  berbagai penelitian dilakukan guna mengetahui kaitan antara faktor hormonal dengan kemunculan penyakit ini termasuk cara pencegahannya. sebab sampai saat ini penyakit yang menyebabkan bagian persendian terasa sangat sakit ini belum ditemukan obatnya yang pasti, selama ini obat-obatan yang diberikan pada para pasien hanya bersifat mengurangi rasa sakit yang muncul dan tidak menyembuhkan penyakitnya.

Dan dalam presentasi pertemuan tahunan American College Of Reumathology di New Orleans. Louisianna, terungkap, memberikan ASI pada  bayi bukan saja baik untuk si bayi tapi juga untuk sang ibu, selain membuat cepat kurus, pemberian itupun membuat tubuh ibu tak lagi didatangi rematik. Wanita yang menyusui bayi mereka selama dua tahun atau lebih mungkin terhindar dari penyakit arthritis rematoid dibandingkan wanita yang hanya menyusui bayi selama tiga bulan atau kurang.

Penelitian Karison dan timnya ini mengkaitkan hasil sebuah penelian terhadap sekitar 80.000 studi kesehatan keperawatan dari tahun 1976 – 2000. mereka mengevaluasi pengaruh dari beberapa faktor reproduksi dan resiko hormonal. termasuk usia wanita pada saat menstruasi pertama, jumlh anak mereka, usia mereka, saat  melahirkan pertama kali dan lamanya mereka menyusui bayi mereka.

Secara keseluruhan 623 penderita rematik selama periode penelitian. Mereka yang tidak memiliki anak yang lebih besar kemungkinan mengalami penyakit ini dibandingkan seorang ibu, kata peneliti.

Dan dikalangan para ibu, mereka yang menghabiskan waktu dua tahun atau lebih yang menyusui akan 50% kecil kemungkinannaya menderita arthritis reamtoid dibandingkan yang hanya menyusui tiga bulan atau kurang. Mereka yang menyusui selama 13 bulan sampai 23 bulan juga cenderung untuk memiliki resiko rendah untuk kondisi penyakit ini, tetapi memang yang terendah adalah mereka yang menyusui sampai sedikitnya 24 jam, yang menjelaskan bahwa semakin lama menyusui maka akan semakin besar pengurangan resikonya, kata Karison.

Lebih lanjut, kaitan antara lamanya waktu pemebrian ASI dan berkurangnya resiko reumatik tetap berlangsung, meskipun peneliti juga mempertimbangkan pengaruh wanita yang merokok, yang terkait dengan meningkatnya resiko terhadap resiko penyakit ini, kata Karison. Alasan yang pasti tentang keterkaitan ini memang masih belum jelas, tetapi Karison berspekulasi bahwa ini mungkin karena salah satu faktor hormonal yang meningkat selama menyusui. Namun pnelitian lanjutan tetap saja diperlukan untuk bisa mengetahui dengan pasti berbgai kemungkinan keterkaitan faktor hormonal wanita dengan  kemunculan penyakit yan satu ini. (Liberty spot 2246, hal 7).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *