Saya ingin menikah (part-1)

Ketika bertambahnya umur pemuda dan pemudi serta sudah  berkeinginan untuk mmembangun sebuah rumah tanga, didapati olehnya berbagai rintangan yang menghadang dihadapannya yang terkadang dating dari dirinya sendiri yang menjadi sebab semua itu.  Terkadang kendala dating dari sebagian orang yang berbuat demikian itu dengan sengaja atau tidak disengaja. Diantara berbagai rintangan itu adalah :

PENYELESAIAN STUDI

Kebanyakan pemuda atau pemudi menyangka bahwa penyelesaian studi adalah pembatas antara dirinya dan program pernikahan sehingga ia berupaya memuaskan dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa studi menjadi satu-satunya faktor utama yang bertolak darinya kesuksesan dan kecerahan di masa depannya. Setiap mereka itu selalu beranggapan bahwa ijazah adalah dasar kehidupan yang penuh kebahagiaan. Sekarang penulis hendak bertanya, “ijazah apa yang dimiliki oleh nenk moyang kita yang telah mendidik dan mengajar bapak kita ? apakah ijazah menjadi penghambat yang menghalangi pernikahan dini ?”

Benar bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat penting demi membangun sebuah bangunan masyarakat terpelajar yang memiliki daya guna bagi negeri kita. Akan tetapi, haal itu sama sekali tidak melarang seseorang untuk melakukan pernikahan yang bagusbnyang didasarkan kepada rasa cinta demi terwujudnya masyarakat yang tenteram dan sentosa.

Kita banyak mengetahui paraa pemilik rumah gedung dan keduudukan yang sangat tinggi yang tidak mampu mewujudkan apa yang hendak mereka capai, melainkan setelah menikah dan meraih ketenangan. Berapa bayak pemuda setelah menikah mampu meraih tingkat pendidikan yang sangat tinggi dengan gemilang. Istri dan anak-anak mereka tidak menggagalkannya, bahkan mereka membantunya meraih kesuksesan dan ketinggian. Berapa bnayak pula gadis mampu mencapai tingkat  kemuliaan dan mampu meniti tangga dibidang ilmiah setelah menikah dengan seorang pemuda sukses dan memiliki kesadaran serta  pemahaman akan nilai ilmu.

Sebaliknya, berapa banyak gadis tua yang tidak mampu mendapatkan ijazah dijenjang yang tinggi bahkan ketinggalan kereta pernikahan. Ia hanya duduk dengan dirinya sendiri dirundung kerugian dan penyesalan. Berapa banyak pemuda hanya duduk-duduk diwarung kopi, dilorong-lorong, dan dijalan-jalan tanpa tanggung jawab yang bias dipikul sehingga ia selalu berfikir dan berfikir, namun tidak pula mendapatkan apa yang menjadi impiannya. Ia hanya sempat menduduki tingkat keilmiahan yang tidak mendatangkan faedah untuknya. Ia hendak menyelesaikan studinya sehingga umurnya mendahului studinya itu dan akhirnya anggapannya menjadi gagal.

Apa guna tingkat tinggi dibidang ilmiah jika akhirnya ketinggalan kereta pernikahan antara dua jenis manusia ?

Alangkah sulitnya kita mendapatkan seorang dokter wanita yang sangat terkkenal yang menyeru dengan suaranya yang lantang. “ambillah semua ijazah yang kumiliki, namun perdengarkan kepadaku kata-kata ‘Mama’. “ wahai saudariku, penulis sangat mengkhawatirkanmu jika sampai engkau mengualang-ngulang seruan sedemikian itu dengan dirimu sendiri. Apakah engkau bias menerima untuk dirimu keadanaan seperti engkau bias menerima untuk dirimu keadaan seperti yang baaru lalu itu ? Penulis tidaklah yakin.

Tags

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *