Saya ingin menikah (part-3)

TAMAK KEPADA GAJI ISTRI

Gaji seorang pegawai wanita menjadi kendala tersendiri ketika ia hendak melangkah menuju suatu pernikahan, baik dating darai pihak wainbya yang memegang kendali segala seluk- beluk pernikahannya, sekalipun tidak melarangnya secara langsung dalam rangka mengeriuk semua gajinya yang seakan-akan sesuap maknan yang sangat mudah ditelan diakhir setiqp bulan. Atau dating dari diri pegawai wanita itu sendiri yang menahan diri untuk tidak menikah karena khawatir menjadi istri seorang pria yang dalam dirinya tidak terbesit selain keinginan mendapatkan harta yang ia kumpulkan dengan jalan apapun. Korban dalam dua kondisi tersebut adalah pegawai wanita itu sendiri yang tiada daya dan tiada upaya. Ia dirundung derita yang disebabkan kesedihan diakhir setiap bulan karena ia tidak menuai buah keletihan dan kelelahannya sedikitpun sehingga segala jerih payahnya itu hilang begitu saja.

Sebagaimana telah disebutkan diatas, hanya menjadi sesuap makanan yang sangat nikmat utnuk dielan, bik oleh sang ayah yang zhalim atau oleg sang suami yang sama sekali tidak memperhatikan hak-hak istri tanpa adanya tanggung jawab dan perasaan. Maka, semua wali gadis pekerja hendaknya selalu melakukan muraqobatullah (merasa dirinyaa selalu diawasi oleh Allah) Subhanahu wa ta’ala, baik secra terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi. Hendaknya mereka itu tidak mengusik sedikitpun harta mereka yang ada dibawah kepemilikannya, kecuali dengan kerelaan dan lapang dada dari mereka.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *